PBSI Cuma Target Satu Juara di Indonesia Open 2018

Salah satu turnamen badminton paling bergengsi yang diselenggarakan BWF, Indonesia Open 2018 akhirnya dimulai. Bertempat di Istora Senayan yang kini sudah direnovasi besar-besaran demi Asian Games 2018, Indonesia Open dimulai pada Selasa (3/7) hingga Minggu (8/7). Sebagai turnamen BWF papan atas, atlet-atlet badminton dunia pun berkumpul di Jakarta. Tak heran karena turnamen ini memperebutkan hadiah total USD 1.250 (sekitar Rp 17,4 miliar).

 

Level gengsi Indonesia Open 2018 pun ada di peringkat atas bersama dengan All England dan China Open. Karena memang saat ini BWF cuma memilih tiga turnamen tersebut sebagai World Tour Super 1.000. Dibandingkan tahun lalu yang cuma memberikan total Rp 13 miliar sebagai hadiah, Indonesia Open 2018 sekarang memang lebih memanjakan para atlet.

 

Hanya saja meskipun menjadi tuan rumah, PBSI justru tak ingin sesumbar akan prestasi atlet Judi bola terpercaya mereka. Cuma diikuti oleh para pebulutangkis di peringkat 32 besar dunia, Susy Susanti selaku Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PP PBSI menyebutkan jika pemerintah hanya berharap Indonesia meraih minimal satu gelar dalam Indonesia Open 2018.

 

Kepada Detiksport, peraih medali emas Olimpiade 1992 di Barcelona itu tidak mau memilih sektor mana yang akan jadi juara. Karena PBSI menilai saat ini Indonesia punya peluang di sektor ganda campuran dan putra yakni Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Owi/Butet) serta Marcus Gideon/Kevin Sanjaya yang masing-masing meraih nomor satu dunia. Ganda putri juga mengalami kemajuan dengan masuk sepuluh besar dunia termasuk tunggal putra. Sementara untuk tunggal putri, kehadiran Fitriana dan Gregoria Mariska diharap bisa mengejutkan.

 

Ini Indonesia Open Terakhir Liliyana Natsir

 

Ada di posisi satu dunia saat ini bukan jadi jaminan selalu juara. Bahkan dalam gelaran Malaysia Open 2018 akhir Juni kemarin, Owi/Butet tersingkir di babak perempatfinal oleh pasangan Inggris, Chris Adcock/Gabrielle Adcock. Kini dengan bermain di rumah sendiri, Owi/Butet pun diharapkan bisa memberikan penampilan terbaik apalagi berstatus sebagai unggulan pertama dan juara Indonesia Open 2017.

 

Namun kabar menyedihkan justru datang dari Butet karena menurutnya 2018 adalah tahun terakhirnya ikut Indonesia Open. Bakal genap 33 tahun pada awal September nanti, Butet tak ingin menggebu-gebu dan berjanji akan memberikan yang terbaik bagi Tanah Air. Siap gantung raket tahun ini, Butet mengaku kalau jelas akan merindukan momen tanding di Istora dengan dukungan suporter Indonesia yang luar biasa. Menyisakan Asian Games 2018 sebagai aksi terakhirnya, Butet akan fokus berbisnis setelah tak jadi atlet badminton.

 

Bareng Piala Dunia 2018, Panitia Optimis

 

Digelar bersamaan dengan Piala Dunia 2018 di Rusia, panitia Indonesia Open 2018 cukup optimis. Perubahan jelas terjadi di Istora dengan berbagai booth entah permainan, makanan atau spot-spot foto Instagrammable demi para pengunjung. Meskipun harga tiket dibanderol lebih mahal daripada Indonesia Master 2018 dan Indonesia Open 2017, Achmad Budiharto selaku Panitia Penyelenggara Indonesia Open 2018 cukup optimis.

 

Para atlet badminton Tanah Air juga tak mau kalah. Salah satunya adalah tunggal putri andalan Indonesia, Gregoria Mariska yang tampil luar biasa di Uber Cup 2018 siap memberikan kejutan, seperti dilansir Djarum Badminton. Hal ini dibuktikan oleh Gregoria dengan menggulung wakil Taiwan, Lee Chia Hsin dengan skor 21-13 dan 21-7. Seperti Gregoria, tunggal putra Indonesia terbaik saat ini, Anthony Sinisuka Ginting berharap bisa menang lagi di Istora seperti Indonesia Master 2018.

Share Button
 

Author: impact